SEMIOTIKA RAJATEGA

MC hari ini lebih banyak menggunakan topeng dari Zapatista
Hampir sulit membedakan antara bacot patriot dan miskin logika
Bicara tentang skill kompetisi, mengobral sompral
Jatuh setelah berkoar, lari dengan ujung kontol terbakar
MC butuh federasi dan breakbeats berdasi
Untuk sekantung wacana basi dan eksistensi
MC Tampon, mencoba membuat mall menjadi Saigon
Amunisi tanpa kanon, mucikari martir yang gagal mencari bondon
Sarat kritik, kosong esensi seperti khotbah kyai Golkar
Bongkar essay kacangan lulabi usang pasca makar
Gelora manuver rima Kahar Muzakar
Tak akan pernah dapat menyentuh beat pembebasan B-Boy Ali Asghar
Hiphop chauvinis, kontol kalian bau amis, memang tak akan pernah habis
Persis duet Hitler tanpa kumis dan Earth Crisis
Krisis identitas, menyebut teman tongkrongannya 'niggaz'
Sebut dan diss nama kami, kubuat bacot kalian karam seperti Tampomas
Berusaha setengah mati menjadi negasi
Berlindung di belakang pembenaran interpretasi, basa-basi
Mengobarkan kebanggaan dengan microphone terseret
Tak sabar menunggu saat monumental kalian berduet dengan Eurrico Guterrez

Ternyata rencana invasimu lebih meleset dari konsepsi
Dan prediksi partai marxist akan kematian borjuasi
Melemparkan invitasi MC pada setiap rima
Dan Homicide masih mendominasi sensus kematian populasi akibat rajasinga
MC adalah negara yang membuat kontradiksi tak pernah final
Tanpa manifestasi yang sesubstansial gerilyawan maoist di Nepal
Lirikal neoliberal, yang memaksa indeks lirikmu turun drastis
Dan terlihat lebih dungu dari logika formal, terlalu tipikal
Dan masih jauh dibawah horizon minimal
Memiliki nasib yang sama dengan PSSI dalam kancah internasional
Hadirkan konfrontasi maka MC lari mencari pengacara
Dan mengakhiri argumen dengan histeria seperti Yudhistira tanpa hak cipta
Jangan berharap unggul dengan skill bualan ala TV Media
Yang membuatmu dan Iwa tersungkur dalam satu kriteria

Representasi yang membuatmu nampak seperti fatamorgana
Membuat setiap microphone battle berakhir dengan wajah yang sama
Persetan dengan persatuan, hiphop hanya memiliki empat unsur
Dua mikrofon, kau dan aku, tentukan siapa yang lebih dulu tersungkur

Memang memuakkan melayani diplomasi scene lawakan
Tapi pasti kalian dapatkan jika kalian ingin konflik atas nama kebanggaan
Bidani bacot imortalitas hiphop murahan seperti liang dubur
membuat lagu lama konservatif keluar liang kubur
Karena aku adalah seorang kapiten neraka mematahkan pedang panjang para lokalis duplikat dan plagiat para Wu-Tang
Arwah objek kritik lapuk layak sosialisme ilmiah
Mencoba mengancam dengan lulabi akidah
Paku dalam bingkai kaca keagungan moralitas, persetan kuantitas
Kematian memang identitas yang tak perlu imortalitas
Label adalah reduksi
Komoditas residu industri
Kultural hegemoni
Membidani oponen dalam posisi
Prosa pramudya yang bukan Ananta Toer
Mengepal jemari meski dengan batas teritori yang terkubur

Me-manage kalbu tanpa retorika Aa Gymnastiar
Menembus urat nadi distribusi tanpa harus membuat izinku terdaftar
MC menabur bensin dan tak pernah punya nyali menyalakan korek
Membacot dibelakang punggung lebih parah dari CekNRicek

MC yang sama petantang-petenteng
Sekarang membawa icon peace lebih banyak dari para anggota Slank
Kalian para martir hiphop
Patriot tai kucing
Yang membela lubang pantat logika dengan darah
Siapkan microphone kalian dan siapkan untuk menutup lubang tai sejarah
Dan bagi kalian yang menginterpretasikan lagu ini untuk kalian..
Lebok tah Anjing!!

                            

november awal

Siang tadi saya kembali menolak berhadapan dengan monitor dan berkhianat janji dengan klien (hehehe). Ajakan Teman yg sampai skr selalu mengamininnya menuju sebuah tempat dan suasana merindu. Kerinduan berada ditengah-tengah orang-orang yang memiliki harapan. Rindu berada disebuah kerumunan orang yg pernah, sedang dan menuntut memiliki harapan. Yang berkumpul untuk sebuah (dan mungkin banyak) harapan pada sebuah kehidupan yang melampaui kehidupan itu sendiri. Rindu untuk melengkapi hidup.

Dan saya duduk disamping belasan policide dan anak-anak, seumuran Karin, "denny".."jojon"..denny"..."tesi" sok terlambat dua-tiga detik, mencari jawaban yang cocok jikalau temen saya bertanya "skr mau kemana?", "weks". Syukurlah hanya dia aja mungkin yang bisa memulai berkata "yuk?" sok terlambat 3 detikan juga... "yuuuk!" sambil memandangi wajah-wajah yang kelelahan amat sangat. Namun wajah mereka sama sekali tidak mengatakan bahwa mereka akan berhenti, paling tidak hari ini. Ketika aksi tuntutan mereka dianggap angin dan dijawab dengan retorika formalis birokrasi dan pengadilan (baca: hukum). Saya merindukan saat-saat ini. Berada diantara org banyak yg bukan sebuah kerinduan menjadi bagian dari massa. Meski saya tahu bahwa ini adalah aksi massa (bener gak ver?). Saya berusaha mencoba melupakan sedikit banyaknya obrolan beberapa hari kemarin dengan kawan kawan tentang massa dengan semua karakter pseudo-nya. Juga buku-buku Crimethinc. Ada perasaan yang sama beberapa tahun kebelakang yang pernah terasa mengalir dipersendian ketika saya berjalan bersama kawan dulu menghabiskan tepian jalan Bandung dan dimakan panasnya matahari.

Dan kemudian, tiba-tiba saya rindu Pe'er. Sudah hampir satu tahun dia wafat. Saya yakin banyak kawan yang kehilangan dia sama seperti saya hari ini. Terlebih ketika menghabiskan hari di pojokan yang sama di Gasibu tempat kami makan es bul-bul.

Malam menjelang malam. Saya tidak perlu menunggu orasi orasinya sebelum benar-benar menyelesaikan ‘tugas sejarah’ saya hari ini; membolos. Ironis dipikir-pikir, saya berada ditengah-tengah aksi orang yang menuntut hak mereka kembali, sedangkan saya membolos janji. Musim penghujan akhirnya datang juga. "Karin maaf yah kemarin gak salim2an".  Dan orang-orang ramai meributkan peringatan 11 September dengan nada yang sama.
Saya akan bertaruh untuk Bush, meratakan dunia.

(My 'nb' weighs a ton: Aneh memang, pertama karena pemerintah memang sudah asshole dari sananya, membuat tekanan memang perlu tapi akan sangat percuma jika waktu dihabiskan untuk menghujat tidak uring-uringan. Teninternal gerakan, terutama jika melihat kondisi dilapangan yg sangat-sangat perlu otokritik, refleksi dan sadar diri bahwa beberapa momen pegangan yang bisa membuat saya berharap mereka skr sedang super waduk. Dan kedua, di partai itu katanya sih bukan orang yg sama yg beredar di aktivitas serupa 3-4 tahun kebelakang. Ini yang paling mengherankan. Muka-muka baru dengan kelakuan lama. Tapi jangan-jangan ini suatu tanda keberhasilan... para 'aktivis' tua bangkotan itu berhasil dan sukses menurunkan tabiat2 yg menyebalkan kepada generasi penerus mereka. Saya memang berusaha membuat persediaan 'antidote'nya Secara pribadi saya ingin sekali memakluminya, terlebih setelah meminta permisi jalan2 "sebentar", daripada menunggu apalagi terpaksa mendengarkan diskusi untuk hal-hal yang minta ampun amit-amitnya. Tentang hitungan-hitungan aksi dan 'kepemimpinan' organ di lapangan, tentang eksistensi siapa yang paling eksis, siapa yang paling hebat meraup massa sebesar-besarnya, dan juga tentang 'portofolio' g a g a h - g a g a h a n  yang...hkhkhk... "permisi sebentar ah, pengen jalan jalan ke depan dulu sama vera". Dan hanya Mr Bean yang balik ke event begituan lagi.)

(1 Matrix 44:51)

Saat dunia melihat diriku, ia tidak melihatku. Ia tidak melihatku apa yang ada dalam diriku. Ia hanya melihat imaji yg kuproyeksikan. Ia melihat imaji yg kuproyeksikan. Ia melihat imaji yang terproyeksikan pada diriku. Mungkin dibutuhkan lebih banyak lagi penjelasan utk hal-hal berikut ini. Dibanding untuk harus memaki kepada kekosongan, sebaiknya memang ditempatkan disini sebuah kontainer bagi idea-idea yang terkumpul agar dapat tertumpah ruah dan menggenangi sesuatu... aku pikir aku telah memulai sebuah revolusi. Berbulan-bulan lalu, bertahun-tahun lalu. Saat aku keluar dari kamar mandi, setelah sekian banyak waktu yang terbuang untuk meratap dan berharap untuk dapat muncul dengan sesuatu untuk dilakukan dan diyakini; bagi aku, itulah alasan untuk terus hidup. Bukan berarti bahwa memang ada alasan untuk mati, tetap aku menginginkan sesuatu yg lebih. Selalu ada visi untuk tetap hidup, untuk mengisi kedalaman jiwa dalam semangat kata-kata aku... aku tak pernah mengklaim telah memiliki jawaban, tidak lagi. Aku justru memberikan lebih banyak pertanyaan atas pertanyaan yang ada, aku mencari lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi. Aku menginginkan alasan untuk hidup. Aku ingin sesuatu yg lebih dari sekadar eksistensi berkelanjutan sementara tak ada lagi yang dapat dilakukan. Aku ingin sesuatu yang lebih indah. Aku tetap bermimpi tentang akhir dunia. Telah nyaris satu minggu dimana aku terbangun dari mimpi dan teringat akan akhir dunia. Tak ada kepanikan, begitulah adanya. Berimajinasi bahwa dunia telah berakhir, kemana aku akan pergi pada momen-momen terakhir? Mengapa tidak aku berusaha untuk membangun sebuah tempat dimana aku akan dapat menjalani hidup aku sendiri, secara bersama-sama. Mengapa juga harus ada sesuatu hal yang menjadi harapan aku sebelum aku mati? Mengapa juga kematian datang hari ini? Aku hanya membutuhkan alasan untuk tetap melanjutkan hidupku.

("Apa yang harus kukatakan padanya? Apakah aku tahu alasan untuk hidup? Aku tidak sedepresif dirinya karena aku tidak berharap terlalu banyak. Aku lebih seperti... terkagum pada hidup ini, yang diberikan padaku--diberikan entah untuk apa" -Jean Paul Satre)

TAI & PERUBAHAN SOSIAL

"Lebih baik mati dgn berpijak pada kakimu sendiri dari pada hidup dengan bertumpu pada lututmu" (Emilliano Zapata)

Genjer. Bukan macam mitos nyanyian Gerwani, yg pernah diekspose media massa. Hanya dedaunan hijau yg sering dijadikan pelengkap pecel di daerah Madiun. Sekedar daun kenyal² kangkung yg pleh orang² Bule disebut java salad. Melirik ke folder pikiran ketika seorang teman di masa lalu mengajak main tebak-tebakan. "Siapa yg kembali?,"senyumnya. "Nyerah!", tembak saya malas. "Lalu siapa yg kembali?," saya menodongnya. "Genjer!", balas teman yg sedikit sinting. Ya!, genjer kembali mengingatkan, saat saya berjalan di pelipir selokan dekat rumah singgah. Itu, itu genjer yg tersemat di tai. Saturan lusuh yg masih menampakan wujud aslinya meski sudah melewati pankreas dan digodok oleh gerakan peristaltik. Siapa yg makan genjer? Pikirku. Lebih lanjut lagi, siapa yg memakan genjer hijau dan me-mix and match-kannya dgn kuning tai serta setetes darah merah org sembelit?.

Perpaduan warna traffic light yg di tahun 2004 berniat adu fisik --memperebutkan kursi-- knp bisa bersatu?. Ah maaf meener&noni! Saya tdk bermaksud membicarakan pemilu sebab utk apa? Krn selaku individu saya berniat utk golput (tujuan saya golput tdk sama dgn tujuannya Arief budiman). Ah sudah, lupakan!. Saya akan setir kembali busana pemikiran ini menuju topik awal mengenai genjer & tai. Tai² bergenjer mengapung² bersama renik & dan tutut sawah. Bongkahan²nya dpt dihitung dgn jari tapi bercak²nya entahlah. Mungkin ratusan? "Jorok!,". "Geuleuh!". "Disgusting!". "Geblegh!". Mengapa sedimikian banyak tai yg hilir mudik?. Rumah siapa yg gak pake septictank? Bayangkan bagaimana kalo hujan?. Orang moslem yg suka wudhu 5 kali sehari pasti tak akan lagi merasa suci seandainya air selokan itu meluber. Sedikit saja tumit terkena genangan airnya, seorang moslem itu biasanya harus mensucikan diri dgn tanah & mandi besar. Esok hari. Saya memang biasa melewati jalan yg disamping kirinya ada selokan. Selajur jalan tembus itu mengarahkan saya menuju warnet yg salah seorang penjaganya tomboy manis bernama Leoni. Dan "Oh tidak!", saya berteriak histeris ketika menapaki jalan yg terbuat dari tembok itu. "Siapa?, si Leoni?" penasaran-mu keluar. "Bukan!" saya menyanggah, yg oh tidak itu..., lihat!, dihadapan saya seorang wanita menjumputkan tangan ala balerina sembari melemparkan kantong plastik ke dlm selokan. Gila!. Bandung lg musim hujan. Kalo hujan datang mampuslah, semua kebanjiran tai!.

Prediksi berjalan. Mendung bertahan dari pagi hingga sore hari. Dan ketikan dilayar flat komputer menunjuk pukul 16.32, terdengar bunyi ces...ces...ces jelegur!, byur. Hujan yg dikerabati petir datang tiba². Saya yg masih di warnet si Leoni terpaksa membatalkan kepulangan. Waktu jalan cepat. 30 menit sudah, hujan yg byur berubah menjadi time to go now. Disconnect internet. Ambil uang 7000 dari dompet dan berjalan.

Seratus langkah dari warnet muut saya monyong. "O ow!". Ingin muntah rasanya. Dikepala saya berputar-putar genjer, pemilu, tai dan wanita yg melemparkan kantong plastik ke selokan. Air selokan meluber dan tai² berceceran dijalan. Saya mengkerutkan dahi sambil mengumpat dalam hati "Bego apa tolol wanita itu?", sarkasme saya keluar.

Setiap tahun, di bulan yg ujungnya "ber" selokan pasti banjir. Dan wanita itu tak mungkin tak mengetahui bahwa penyebab luap air yg sehari² diendap tai, dikarenakan sampah yg sering dilontarkan. Saya kecewa dgn kebodohan itu. Apa yg ada dalam pikiran kamu ketika saya berpikir tentang kebodohan?.

"Ah paling kamu naksir sama si Leoni yg suka novel "Wanita Di Titik Nol itu kan?," selidik kamu yg menggaruk ketiak.

"Eem, atau!, kamu jadi mikirin bagaimana caranya, tai manusia dijadikan pupuk urea?," sangka kamu selaku mahasiswa pertanian.

"Salah!". Tarik kembali prasangka kamu. Meski byk benarnya apa yg kamu pikirkan -kecuali si Leoni--. Tapi bukan itu intinya"

Ketika endapan tai meluber kejalan, terbesit kembali--dalam pikiran-- sebuah pernyataan teman yg jenggotnya selebat Saddam Husain saat ditangkap American Army.

"Bagaimana mau merancang revolusi klo lingkungan sekitar masih jorok minta ampyunn," serunya.

Ada pula anak kedokteran yg biang "Jgn bicara tentang perubahan sosial klo kamu masih buang sampah dijalan .Kerjain yg kecil² dulu deh"ketiknya sewaktu chatting.

Benar!, adalah fakta bahwa -banyak-- orang yg bilang kalo revolusi & reformasi kelakuannya jorok abis. Klo mo bilang jujur, --bukan dikalangan aktivis sosialis & demokrasi saja yg kaya gitu--- di kalangan aktivis Islam ada juga yg begitu. Betul! Dan tak bisa dihitung dgn jari -hrs pake kalkulator-- orang yg bicara tentang perubahan sosial ternyata buang sampah tdk pada tempatnya.

Saya pernah menyaksikan beberapa orang yg pake slayer laailahailallah berteriak "Khilafah," dan "Destroy Kapitalisme" sambil buang botol aqua di pinggir jalan. Orang² itu menjentikkan puntung rokok ke taman serta menendang bungkus makanan kecil ke dlm selokan. Dan saya katakan --supaya teman yg berjanggut & ananda mahasiswi kedokteran itu tdk menganggap saya menyepelekan kebersihan--"Hei, sang aktivis kalian mikir pake polo ya?. Huh, buang sampah sembarangan!, Mikir yg panjang dong".

Boleh sombong!. Semasa SMA saya ikut pecinta alam & selalu membuang sampah pada tempatnya. Sampai saat ini saya senantiasa memarahi teman² yg buang puntung rokok dari dalam mobil pribadi ke jalan, bahkan ketika membaca buku Samson Delilah & ideologi hijau, saya lantas memulai utk tdk menggunakan plastik & stereofoam yg susah dicerna bumi. Saya sangat mencintai lingkungan. Tapi!, ini masalahnya tdk terletak disana -inti masalahnya yakni-- saya takut, kalau meneer & noni terkena wabah culdessac intellectual yg menular seperti epidemik flu burung yg menggegerkan itu. Meneer dan noni hrs tau bahwa antara perubahan sosial (revolusi atau reformasi) tdk terkait dgn buang-membuang sampah tok seperti -yg dikatakan teman saya, "kerjain yg kecil² dulu".

Lakukan dari yg kecil²?. Akur!, Tapi melakukan hal kecil yg nyambung kan?. Klo hal² kecil seperti buang sampah tok, terlebih berbicara haid & nifas, ttg cara mencukur kumis, menyabuni kaki yg bau apek, hingga membereskan sendal di masjid!, Ya... nggak nyambung dgn perubahan sosial atuh. Dan kpn perubahan sosialnya terjadi?. Hal² kecil yg nyambung dgn perubahan sosial adalah membicarakan faktor² apa yg menyebabkan orang sampai buang sampah. Apakah karena mahalnya biaya pendidikan hingga orang jadi bodoh amat? Apakah krn buruknya strategi pembuatan saluran air atau krn penegakan hukum yg lemah?. Hal² yg memiliki korelasi dgn perubahan sosial lainnya adalah bagaimana caranya mendandani komunikasi politik --yg dimiliki-- supaya akal & perasaan masyarakat menerima gagasan perubahan pola pikir secara total is the only solution! Hal² kecil lainnya ketika ingin melakukan perubahan sosial ialah aktif melakukan dua arah agar pemikiran masyarakat berubah; memberikan pendidikan politik ekonomi agar teman, ibu, bapa, pembantu dan pak lurah tau, bahwa kebijakan pemerintah ttg peminjaman hutang dari CGI & privatisasi --merupakan usaha pemerintah  utk lari dari tanggung jawab thd rakyatnya--adalah salah! Juga bagaimana membeberkan fakta bahwa pemerintah membiarkan koruptor di penjara bbrp bulan sementara orang yg mencuri beras -utk makan-- dipukuli & dibakar beramai-ramai. Yg terakhir! Jgn lupa memberikan motivasi "Ayo bergerak saat ini juga utk perubahan!," sembari mengutip perkataan Emilliano Zapata : "Lebih baik mati dengan berpijak pada kakimu sendiri daripada hidup dgn bertumpu pd lututmu!", Kalo meneer & noni tetap memegang cara yg tdk nyambung dgn perubahan sosial maka ada baiknya saya beritahu bahwa orang-orang yg merancang Revolusi Bolsyevijk itu, celana & bajunya kumel bin dekil; mereka bebas berhubungan seks; dan tukang mabok; tapi merekalah yg meruntuhkan kekuasaan Tsar Rusia pada thn 1917. Lah kok bisa ya? ^__^

   

NEVER MIND THE ORIGINAL here's the BOOTLEG

TAHUKAH ANDA?
DO YOU KNOW?
MYAHO TEU?
DI BOTO HO DO?

MEMINJAM BUKU LEBIH BAIK DARI PEMBAJAKAN

Survey membuktikan, seorang pemilik buku di Indonesia rata² meminjamkan bukunya ke empat orang. Apabila satu judul buku dan angka ini bisa jadi lebih besar lagi sehingga orang² yg tadinya tdk bisa membaca karena gak punya duit akan mendapat kesempatan yg sama dengan orang yg punya duit. Ini berarti:

PEMINJAM BUKU BAJAKAN LEBIH BAIK LAGI

Karena mereka yg selama ini tdk punya modal, alias bondo nekat telah membantu penyebaran informasi untuk dirinya. Namun, diatas segalanya, tidak ada yg lebih baik dari;

PEMINJAM BUKU BAJAKAN YANG MEMBAJAK

Karena dia telah sadar bahwa tidak perlu ada hambatann untuk memperoleh akses informasi atau ilmu pengetahuan bagi umat manusia. Apabila kita ingin memajukan pendidikan termasuk meningkatkan kecerdasan dan pengetahuan masyarakat miskin marilah kita meminjam/meminjamkan buku dan mendukung pembajakan.

MARILAH MEMBAJAK UNTUK PERUBAHAN! (^-^)//

SENTRIPETAL dan SENTRIFUGAL

"suka hidup dalam koloni tapi tak suka dan tak pandai terikat dalam sebuah koloni. tak menyukai koloni yang mempunyai 'nyawa' yang terlalu mencekik, lebih sering independen dan soliter dalam berkoloni...."
Saya uraikan sebagai.......
Koloni, bukan hanya sebuah gerombolan atau kelompok yang berguna secara artifisial, tetapi...koloni (secara biologis) diperlukan oleh makhluk hidup sebagai supplai nutrisi, ancaman pemangsa, pembelajaran berburu, dan mengenali hal-hal yang terjadi disekitarnya, baik faktor internal maupun eksternal.
Semua makhluk hidup secara alami membutuhkan koloni, hatta bagi makhluk tingkat tinggi (karnivor pada top piramid, ataupun pemilik top kapital pada masyarakat) walaupun dengan koloni kecil. untuk lebih jelasnya kita bisa melihat berapa jumlah kelompok berburu singa, ataupun kalau di dunia usaha adalah kelompok dunia G-10.
Tapi, ada sebuah koloni yang mempunyai 'nyawa' begitu mencekik sehingga anggotanya tidak bisa mencari dan melihat yang dia inginkan. artinya alami juga dalam sebuah koloni ada jajaran yang di lingkaran penguasa (magnet ke porosnya kuat) dan ada jajaran marjinal yang kalau dipaksa oleh jajaran yg dekat dengan poros, baru dia 'bergerak' dan merasa bagian dari sebuah koloni.
Membingungkan bukan?
secara lebih sederhana....
dalam kehidupan pribadi saya, pilihan hidup sendiri tanpa sebuah ikatan koloni merupakan hal yang berat, karena saya berburu sendiri-kalaupun dapat mangsa yang terlalu besar, saya harus makan dengan santapan yang sama dalam berhari-hari demi efisiensi. Mata saya harus awas dalam 24 jam karena sistem seorang individu 'lemah' pelacakannya terhadap ancaman dari luar. Dan apabila saya melangkah keluar terlalu jauh dan membahayakan, tidak ada lingkaran dekat saya yang berusaha menarik saya kembali ke poros.
Tapi disisi lain, saya tidak mau menjadi katak dalam tempurung. Saya ingin melihat semuanya-kalau bisa-dengan mata saya sendiri, bukan karena informasi dari sekitar saya yang telah 'membisiki' saya.
Nah karena itulah saya lebih senang berada di kalangan marjinal dari sebuah lingkaran, yang masih memiliki gaya sentripetal cukup untuk sekadar ada di 'jalur yang benar', tapi juga memiliki gaya sentrifugal untuk melihat dunia yang lebih luas. (^_^)//

TEMAN

persahabatan dan cinta tak membutuhkan alasan. banyak yang bilang itu hanya bullshit, tapi lebih banyak yang membuktikan kebenarannya. karenanya saya bisa mengerti mengapa ALEX memilih MAHDI dan bukan ASEP (sorry, analognya PETIR yang lagi up2date). tapi perasaan sakit hati karena teman kita 'berbuat dosa' menurut pandangan kita adalah sesuatu yang sangat manusiawi.
saya sempat ilfil ketika orang yang sangat dekat dengan saya, apapun ia curahkan-gundah hatinya, kesedihannya, dan segala dukanya. tapi karena mungkin sekarang juga terpisah ruang dan waktu, sms dan telepon pun tak sempat. padahal dulu, walau dalam seminggu kita selalu bertemu, chating juga jadi agenda yang tak pernah terlewat.
saya 'kehilangan' dia. tapi ternyata kehilangan itu juga hanya sementara, dan tak ada alasan lagi bagi saya untuk tidak menganggapnya sebagai teman saya. siapapun dia, aku menyayanginya dan mencintainya. dan aku tak butuh alasan dan penjelasan untuk mencintainya ^_^

API dan ASAP

asap selalu mengiringi api, tapi ada kalanya api yang telah padam...sengaja dikipasi (ato tertiup angin) dan dibuat agar asap menjadi besar...padahal sebenarnya api itu sendiri telah padam dan tak disulut lagi oleh sang penyulut

ALIEN

Pernah merasakan menjadi alien?
yaitu saat keberadaan kita selalu dipandang dengan pandangan menyelidik
atau saat keberadaan kita tidak disadari oleh sekeliling kita
yaitu saat pembicaraan kita tak dimengerti oleh orang2 yang kita ajak bicara
yaitu ketika isi kepala kita berbeda dengan kenyataan yang kita hadapi
yaitu ketika kita ingin menyentuh yang lain dengan maksud bersahabat, tapi diartkan kita akan melumatnya
sungguh malang para alien, dan masalah utamanya adalah karena dia tidak bisa mentransformasikan isi kepalanya