"Lebih baik mati dgn berpijak pada kakimu sendiri dari pada hidup dengan bertumpu pada lututmu" (Emilliano Zapata)
Genjer. Bukan macam mitos nyanyian Gerwani, yg pernah diekspose media massa. Hanya dedaunan hijau yg sering dijadikan pelengkap pecel di daerah Madiun. Sekedar daun kenyal² kangkung yg pleh orang² Bule disebut java salad. Melirik ke folder pikiran ketika seorang teman di masa lalu mengajak main tebak-tebakan. "Siapa yg kembali?,"senyumnya. "Nyerah!", tembak saya malas. "Lalu siapa yg kembali?," saya menodongnya. "Genjer!", balas teman yg sedikit sinting. Ya!, genjer kembali mengingatkan, saat saya berjalan di pelipir selokan dekat rumah singgah. Itu, itu genjer yg tersemat di tai. Saturan lusuh yg masih menampakan wujud aslinya meski sudah melewati pankreas dan digodok oleh gerakan peristaltik. Siapa yg makan genjer? Pikirku. Lebih lanjut lagi, siapa yg memakan genjer hijau dan me-mix and match-kannya dgn kuning tai serta setetes darah merah org sembelit?.
Perpaduan warna traffic light yg di tahun 2004 berniat adu fisik --memperebutkan kursi-- knp bisa bersatu?. Ah maaf meener&noni! Saya tdk bermaksud membicarakan pemilu sebab utk apa? Krn selaku individu saya berniat utk golput (tujuan saya golput tdk sama dgn tujuannya Arief budiman). Ah sudah, lupakan!. Saya akan setir kembali busana pemikiran ini menuju topik awal mengenai genjer & tai. Tai² bergenjer mengapung² bersama renik & dan tutut sawah. Bongkahan²nya dpt dihitung dgn jari tapi bercak²nya entahlah. Mungkin ratusan? "Jorok!,". "Geuleuh!". "Disgusting!". "Geblegh!". Mengapa sedimikian banyak tai yg hilir mudik?. Rumah siapa yg gak pake septictank? Bayangkan bagaimana kalo hujan?. Orang moslem yg suka wudhu 5 kali sehari pasti tak akan lagi merasa suci seandainya air selokan itu meluber. Sedikit saja tumit terkena genangan airnya, seorang moslem itu biasanya harus mensucikan diri dgn tanah & mandi besar. Esok hari. Saya memang biasa melewati jalan yg disamping kirinya ada selokan. Selajur jalan tembus itu mengarahkan saya menuju warnet yg salah seorang penjaganya tomboy manis bernama Leoni. Dan "Oh tidak!", saya berteriak histeris ketika menapaki jalan yg terbuat dari tembok itu. "Siapa?, si Leoni?" penasaran-mu keluar. "Bukan!" saya menyanggah, yg oh tidak itu..., lihat!, dihadapan saya seorang wanita menjumputkan tangan ala balerina sembari melemparkan kantong plastik ke dlm selokan. Gila!. Bandung lg musim hujan. Kalo hujan datang mampuslah, semua kebanjiran tai!.
Prediksi berjalan. Mendung bertahan dari pagi hingga sore hari. Dan ketikan dilayar flat komputer menunjuk pukul 16.32, terdengar bunyi ces...ces...ces jelegur!, byur. Hujan yg dikerabati petir datang tiba². Saya yg masih di warnet si Leoni terpaksa membatalkan kepulangan. Waktu jalan cepat. 30 menit sudah, hujan yg byur berubah menjadi time to go now. Disconnect internet. Ambil uang 7000 dari dompet dan berjalan.
Seratus langkah dari warnet muut saya monyong. "O ow!". Ingin muntah rasanya. Dikepala saya berputar-putar genjer, pemilu, tai dan wanita yg melemparkan kantong plastik ke selokan. Air selokan meluber dan tai² berceceran dijalan. Saya mengkerutkan dahi sambil mengumpat dalam hati "Bego apa tolol wanita itu?", sarkasme saya keluar.
Setiap tahun, di bulan yg ujungnya "ber" selokan pasti banjir. Dan wanita itu tak mungkin tak mengetahui bahwa penyebab luap air yg sehari² diendap tai, dikarenakan sampah yg sering dilontarkan. Saya kecewa dgn kebodohan itu. Apa yg ada dalam pikiran kamu ketika saya berpikir tentang kebodohan?.
"Ah paling kamu naksir sama si Leoni yg suka novel "Wanita Di Titik Nol itu kan?," selidik kamu yg menggaruk ketiak.
"Eem, atau!, kamu jadi mikirin bagaimana caranya, tai manusia dijadikan pupuk urea?," sangka kamu selaku mahasiswa pertanian.
"Salah!". Tarik kembali prasangka kamu. Meski byk benarnya apa yg kamu pikirkan -kecuali si Leoni--. Tapi bukan itu intinya"
Ketika endapan tai meluber kejalan, terbesit kembali--dalam pikiran-- sebuah pernyataan teman yg jenggotnya selebat Saddam Husain saat ditangkap American Army.
"Bagaimana mau merancang revolusi klo lingkungan sekitar masih jorok minta ampyunn," serunya.
Ada pula anak kedokteran yg biang "Jgn bicara tentang perubahan sosial klo kamu masih buang sampah dijalan .Kerjain yg kecil² dulu deh"ketiknya sewaktu chatting.
Benar!, adalah fakta bahwa -banyak-- orang yg bilang kalo revolusi & reformasi kelakuannya jorok abis. Klo mo bilang jujur, --bukan dikalangan aktivis sosialis & demokrasi saja yg kaya gitu--- di kalangan aktivis Islam ada juga yg begitu. Betul! Dan tak bisa dihitung dgn jari -hrs pake kalkulator-- orang yg bicara tentang perubahan sosial ternyata buang sampah tdk pada tempatnya.
Saya pernah menyaksikan beberapa orang yg pake slayer laailahailallah berteriak "Khilafah," dan "Destroy Kapitalisme" sambil buang botol aqua di pinggir jalan. Orang² itu menjentikkan puntung rokok ke taman serta menendang bungkus makanan kecil ke dlm selokan. Dan saya katakan --supaya teman yg berjanggut & ananda mahasiswi kedokteran itu tdk menganggap saya menyepelekan kebersihan--"Hei, sang aktivis kalian mikir pake polo ya?. Huh, buang sampah sembarangan!, Mikir yg panjang dong".
Boleh sombong!. Semasa SMA saya ikut pecinta alam & selalu membuang sampah pada tempatnya. Sampai saat ini saya senantiasa memarahi teman² yg buang puntung rokok dari dalam mobil pribadi ke jalan, bahkan ketika membaca buku Samson Delilah & ideologi hijau, saya lantas memulai utk tdk menggunakan plastik & stereofoam yg susah dicerna bumi. Saya sangat mencintai lingkungan. Tapi!, ini masalahnya tdk terletak disana -inti masalahnya yakni-- saya takut, kalau meneer & noni terkena wabah culdessac intellectual yg menular seperti epidemik flu burung yg menggegerkan itu. Meneer dan noni hrs tau bahwa antara perubahan sosial (revolusi atau reformasi) tdk terkait dgn buang-membuang sampah tok seperti -yg dikatakan teman saya, "kerjain yg kecil² dulu".
Lakukan dari yg kecil²?. Akur!, Tapi melakukan hal kecil yg nyambung kan?. Klo hal² kecil seperti buang sampah tok, terlebih berbicara haid & nifas, ttg cara mencukur kumis, menyabuni kaki yg bau apek, hingga membereskan sendal di masjid!, Ya... nggak nyambung dgn perubahan sosial atuh. Dan kpn perubahan sosialnya terjadi?. Hal² kecil yg nyambung dgn perubahan sosial adalah membicarakan faktor² apa yg menyebabkan orang sampai buang sampah. Apakah karena mahalnya biaya pendidikan hingga orang jadi bodoh amat? Apakah krn buruknya strategi pembuatan saluran air atau krn penegakan hukum yg lemah?. Hal² yg memiliki korelasi dgn perubahan sosial lainnya adalah bagaimana caranya mendandani komunikasi politik --yg dimiliki-- supaya akal & perasaan masyarakat menerima gagasan perubahan pola pikir secara total is the only solution! Hal² kecil lainnya ketika ingin melakukan perubahan sosial ialah aktif melakukan dua arah agar pemikiran masyarakat berubah; memberikan pendidikan politik ekonomi agar teman, ibu, bapa, pembantu dan pak lurah tau, bahwa kebijakan pemerintah ttg peminjaman hutang dari CGI & privatisasi --merupakan usaha pemerintah utk lari dari tanggung jawab thd rakyatnya--adalah salah! Juga bagaimana membeberkan fakta bahwa pemerintah membiarkan koruptor di penjara bbrp bulan sementara orang yg mencuri beras -utk makan-- dipukuli & dibakar beramai-ramai. Yg terakhir! Jgn lupa memberikan motivasi "Ayo bergerak saat ini juga utk perubahan!," sembari mengutip perkataan Emilliano Zapata : "Lebih baik mati dengan berpijak pada kakimu sendiri daripada hidup dgn bertumpu pd lututmu!", Kalo meneer & noni tetap memegang cara yg tdk nyambung dgn perubahan sosial maka ada baiknya saya beritahu bahwa orang-orang yg merancang Revolusi Bolsyevijk itu, celana & bajunya kumel bin dekil; mereka bebas berhubungan seks; dan tukang mabok; tapi merekalah yg meruntuhkan kekuasaan Tsar Rusia pada thn 1917. Lah kok bisa ya? ^__^
Recent Comments